“Sakral dalam Ijab, Luhur dalam Adat: Harmoni Kolaborasi Bahasa Jawa dan PAI di SMAN 1 Kenduruan”

Langit pagi di SMAN 1 Kenduruan seakan turut menyaksikan sebuah peristiwa istimewa yang sarat makna dan nilai. Dalam balutan kebersamaan dan semangat pelestarian budaya, terselenggara kegiatan Praktik Kolaborasi Mapel Bahasa Jawa bersama Pendidikan Agama Islam bagi siswa-siswi kelas XII. Kolaborasi yang digagas oleh Ibu Fitri Nur Wijayanti, S.Pd. selaku guru Bahasa Jawa, bersama Bapak M. Ali Nashudin B., S.HI., M.A. selaku guru PAI ini menjadi panggung pembelajaran yang tak hanya mengasah pengetahuan, tetapi juga menanamkan adab, tradisi, dan spiritualitas.

Tepat pukul 08.00 WIB, suasana hening dan khidmat menyelimuti ruang kegiatan saat prosesi ijab qobul digelar. Lafal janji suci terucap dengan penuh ketegasan dan keyakinan, menjadi simbol tanggung jawab, kesungguhan, dan sakralitas sebuah ikatan. Para siswa tidak sekadar memerankan adegan, melainkan memaknai setiap kalimat sebagai cerminan ajaran agama tentang komitmen dan keutuhan rumah tangga. Di sinilah nilai-nilai PAI bersemayam, hidup, dan membumi dalam praktik nyata.

Memasuki pukul 09.00 WIB, suasana beralih menjadi semarak dalam balutan adat Jawa melalui peragaan prosesi panggih temanten gagrak Surakarta Hadiningrat. Dengan busana adat yang anggun dan tata upacara yang runtut, para siswa menghadirkan kembali warisan luhur budaya Jawa. Setiap langkah, sembah, dan simbol dalam prosesi panggih mengandung filosofi mendalam tentang kesetiaan, penghormatan kepada orang tua, serta harmoni dalam kehidupan berumah tangga. Bahasa Jawa tak lagi sekadar materi pelajaran, melainkan napas budaya yang dihidupkan dengan penuh kebanggaan.

Pagelaran semakin meriah dengan hadirnya hiburan dari Sanggar Tari Kridha Sasmita yang memukau lewat gerak gemulai penuh makna, menghadirkan keindahan estetika Nusantara. Tawa pun pecah dalam kehangatan kebersamaan saat Grup Dagelan Guyon Maton/Cak Gendon CS tampil mengocok perut, membalut acara sakral dengan sentuhan humor yang cerdas dan menghibur tanpa meninggalkan nilai kesopanan.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pembelajaran sejati adalah yang mampu menyatukan ilmu, iman, dan budaya dalam satu harmoni. Di panggung sederhana sekolah, para siswa belajar tentang makna janji, tentang adab dalam tradisi, dan tentang kebanggaan terhadap jati diri bangsa.

Sebuah praktik kolaborasi yang bukan hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga menanamkan kenangan dan nilai kehidupan yang akan mereka bawa hingga kelak menapaki masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *